6

 KITA TIDAK SERING BERTUKAR SURAT. Hanya sekitar dua minggu sekali. Tapi setiap surat selalu panjang. Surat-surat yang kau tulis biasanya lebih panjang dari milikku. Bukan berarti panjangnya surat itu penting.  

Aku masih menyimpan semua surat yang kau tulis, tetapi aku tidak membuat salinan dari surat-surat yang kukirimkan, jadi aku tidak bisa mengingat persis apa yang kutulis. Pasti bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya tentang kehidupan sehari-hari dan hal-hal kecil yang terjadi. Aku menulis tentang buku yang kubaca, musik yang kudengarkan, film yang kutonton. Aku juga menulis tentang kejadian di sekolah. Aku masuk tim renang (karena keadaan yang tidak bisa kuhindari, bukan karena aku benar-benar ingin), dan seingatku, aku juga menulis tentang latihan-latihan kami. Saat aku tahu bahwa kaulah yang akan membaca surat itu, kata-kata mengalir begitu saja. Aneh bagaimana terasa begitu alami untuk membuka diri, mengungkapkan pikiranku, perasaanku. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku bisa menulis seperti itu, kata-kata meluap begitu saja. Seperti yang sudah kukatakan, aku selalu berpikir bahwa menulis bukanlah keahlianku. Tapi kaulah yang membangkitkan kemampuan tersembunyi itu dalam diriku. Kau selalu menikmati selipan humor dalam tulisanku. Kau pernah bilang, itulah yang paling kurang dalam hidupku.  

“Seperti vitamin atau semacamnya?” tanyaku.  

“Seperti vitamin atau semacamnya,” jawabmu, mengangguk mantap.  


*  


Aku begitu terpikat padamu, hingga tidak memikirkan apa pun selain dirimu saat terjaga. Kau juga menghantuiku dalam mimpi. Tapi dalam surat-suratku, aku berusaha menahan perasaan itu, tidak membiarkannya terbuka. Aku hanya menulis tentang hal-hal nyata, yang bisa disentuh—dengan sedikit humor jika memungkinkan. Jika aku menulis tentang isi hatiku—tentang perasaan atau cinta—aku merasa seperti akan terjebak di jalan buntu.  


*  


Surat-suratmu mengambil pendekatan sebaliknya, lebih sedikit membahas hal-hal nyata di sekitarmu dan lebih banyak tentang kehidupan batinmu. Atau mimpi-mimpimu, atau cerita-cerita pendek yang kau tulis. Yang paling membekas dalam ingatanku adalah beberapa mimpi yang kau ceritakan. Kau sering bermimpi panjang dan rumit, dan bisa mengingat detailnya dengan jelas, seolah-olah itu adalah kejadian nyata. Aku merasa itu luar biasa. Aku sendiri jarang bermimpi, dan sekalipun bermimpi, isinya langsung menghilang begitu aku terbangun, tercerai-berai begitu saja. Bahkan jika aku terbangun di tengah malam karena mimpi yang sangat jelas (meski itu jarang terjadi), aku akan langsung tertidur lagi dan, saat pagi tiba, tidak bisa mengingat apa pun.  

Saat kuceritakan ini padamu, kau berkata, “Aku selalu menyiapkan buku catatan dan pensil di samping tempat tidurku, dan begitu bangun, aku langsung menuliskan mimpiku. Bahkan saat aku sibuk dan tidak punya banyak waktu. Kalau aku mengalami mimpi yang sangat intens di tengah malam dan terbangun, aku berusaha melawan rasa kantuk dan segera menuliskannya sedetail mungkin. Karena sebagian besar dari mimpi-mimpi itu sangat penting dan mengajariku banyak hal berharga.”  

“Banyak hal berharga?” tanyaku.  

“Ya, tentang diriku yang tidak kuketahui,” jawabmu.  

Bagimu, mimpi hampir setara dengan kejadian di dunia nyata, bukan sesuatu yang mudah terlupakan atau menghilang begitu saja. Mimpi seperti sumber air yang menghidupi hatimu, menyampaikan sesuatu yang penting.  

“Itu butuh latihan. Kalau kau berusaha, kau juga bisa mengingat mimpimu sampai ke detailnya. Coba saja. Aku benar-benar ingin tahu seperti apa mimpi-mimpimu.”  

Baiklah, kataku. Aku akan mencobanya.  

Meskipun aku berusaha (meski tidak sampai menyiapkan pensil dan buku catatan di samping tempat tidur), aku tetap tidak bisa benar-benar tertarik pada mimpiku sendiri. Semuanya terasa samar dan tidak beraturan, terlalu sulit dipahami. Kata-kata yang diucapkan dalam mimpi tidak jelas, adegannya tidak koheren. Dan terkadang, isinya terasa mengerikan, sesuatu yang tidak bisa kuceritakan pada siapa pun. Aku jauh lebih suka mendengar kisah tentang mimpi-mimpi panjang dan penuh warna yang kau alami.  

Kau pernah berkata bahwa aku kadang muncul dalam mimpimu. Itu membuatku senang, mengetahui bahwa aku bisa menjadi bagian dari duniamu yang tersembunyi. Dan sepertinya itu juga membuatmu senang. Namun, kebanyakan waktu, aku bukan pemeran utama dalam mimpimu, melainkan hanya tokoh pendukung dalam sebuah drama.  

Pernahkah kau mengalami mimpi-mimpi yang eksplisit seperti yang sering kualami? Mimpi yang sulit kau ceritakan di depanku, seperti mimpi-mimpiku yang sering berakhir dengan aku mengotori celanaku? Apakah kau benar-benar terbuka dan jujur padaku tentang mimpimu? Saat aku mendengarkanmu menceritakan mimpi-mimpimu, aku sering bertanya-tanya.  

Kau selalu tampak begitu terbuka dalam membicarakan berbagai hal. Tapi sebenarnya, siapa yang tahu pasti? Aku pikir setiap orang di dunia ini punya rahasia. Rahasia itu penting agar kita bisa bertahan hidup.  

Bukankah kau juga berpikir begitu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10

24

9