1
KAULAH YANG PERTAMA menceritakan kepadaku tentang kota itu.
Pada malam musim panas itu, kita berjalan menyusuri sungai, diiringi aroma manis rerumputan yang menguar di udara. Kita melewati beberapa bendungan kecil yang menahan aliran pasir, berhenti sesekali untuk mengamati ikan-ikan perak yang melenggak-lenggok di kolam-kolam kecil. Kita sudah lama bertelanjang kaki. Air dingin membasuh pergelangan kaki kita, sementara pasir halus di dasar sungai membungkus kaki kita seperti awan lembut dalam mimpi. Aku berusia tujuh belas tahun, dan kau setahun lebih muda dariku.
Kau menyelipkan sandal merah ratamu ke dalam tas bahu plastik berwarna kuning dan melangkah dari satu gosong pasir ke gosong pasir berikutnya, sedikit di depanku. Bilah-bilah rumput menempel di betismu yang basah, seperti tanda baca hijau yang indah. Aku membawa sepatu kets putih lusuhku, satu di tiap tangan.
Mungkin karena lelah berjalan, kau menjatuhkan diri ke atas rumput musim panas, menatap langit tanpa sepatah kata pun. Dengan suara mencicit, sepasang burung kecil melesat melintasi langit. Dalam kesunyian yang menyusul, senja kebiruan mulai menyelimuti kita. Saat aku duduk di sampingmu, aku merasakan sesuatu yang aneh, seolah-olah ribuan benang tak kasatmata dengan halus mengikat tubuhmu ke hatiku. Gerakan kecil pada kelopak matamu dan getaran samar pada bibirmu cukup untuk menggetarkan hatiku.
Saat itu, baik kau maupun aku tidak memiliki nama. Perasaan murni seorang anak tujuh belas tahun dan enam belas tahun di atas rerumputan di tepi sungai, dalam senja musim panas, adalah satu-satunya hal yang penting. Bintang-bintang akan segera berkelip di atas kita, dan mereka pun tak bernama. Kita duduk di sana, berdampingan, di tepi sungai dunia yang tak bernama.
"Ada tembok tinggi yang mengelilingi seluruh kota," kau mulai berbicara, kata-katamu muncul dari kesunyian yang dalam, seperti penyelam yang mencari mutiara di dasar laut. "Kota itu tidak terlalu besar, tapi juga tidak cukup kecil untuk bisa diserap dalam satu pandangan."
Ini adalah kali kedua kau berbicara tentang kota itu. Dan kini kota itu memiliki tembok tinggi yang mengelilinginya.
*
Saat kau berbicara, kota itu mulai terungkap, dengan satu sungai yang indah dan tiga jembatan batu (Jembatan Timur, Jembatan Tua, dan Jembatan Barat), sebuah perpustakaan dan menara pengawas, sebuah pabrik tua yang terbengkalai dan perumahan komunal. Dalam cahaya remang-remang menjelang senja, kita duduk berdampingan, menatap kota itu. Kadang-kadang kita berada di sebuah bukit jauh, menyipitkan mata; kadang-kadang kota itu begitu dekat hingga kita bisa menjangkau dan menyentuhnya, mata kita terbuka lebar.
"Aku yang sebenarnya tinggal di sana, di kota yang dikelilingi tembok itu," katamu.
"Jadi kau yang duduk di sampingku ini bukanlah kau yang sebenarnya?" tanyaku.
"Benar. Aku yang ada di sini bersamamu bukanlah aku yang sebenarnya. Ini hanya pengganti. Seperti bayangan yang mengembara."
Aku memikirkannya. Bayangan yang mengembara? Tapi aku menyimpan pikiranku untuk diri sendiri.
"Baiklah, jadi di kota itu, apa yang dilakukan dirimu yang sebenarnya?"
"Bekerja di perpustakaan," jawabmu dengan suara pelan. "Aku bekerja dari sekitar pukul lima sore hingga sekitar pukul sepuluh malam."
"Sekitar?"
"Waktu di sana bersifat relatif. Ada sebuah menara jam tinggi di alun-alun, tapi jamnya tidak memiliki jarum."
Aku membayangkan menara jam tanpa jarum. "Jadi, apakah siapa pun bisa masuk ke perpustakaan itu?"
"Tidak. Tidak semua orang bisa masuk. Dibutuhkan kualifikasi khusus untuk itu. Tapi kau bisa. Karena kau memilikinya."
"Apa maksudmu dengan… kualifikasi khusus?"
Kau tersenyum lembut tetapi tidak menjawab pertanyaanku.
"Jadi selama aku pergi ke sana, aku bisa bertemu dengan dirimu yang sebenarnya?"
"Selama kau bisa menemukan kota itu. Dan selama—"
Kau terdiam, pipimu sedikit memerah. Tapi aku bisa memahami kata-kata yang tak kau ucapkan.
Selama kau benar-benar mencari diriku yang sebenarnya. Itulah kata-kata yang tak berani kau ucapkan.
Aku dengan lembut merangkulmu. Kau mengenakan gaun hijau muda tanpa lengan. Pipimu bersandar di bahuku. Tapi pada malam musim panas itu, kau yang kupeluk bukanlah dirimu yang sebenarnya. Seperti yang kau katakan, itu hanya pengganti, bayangan.
Dirimu yang sebenarnya berada di kota yang dikelilingi tembok tinggi. Di kota dengan pohon-pohon willow di atas gosong pasir yang indah, dengan beberapa bukit kecil, dan binatang-binatang yang tenang, masing-masing memiliki satu tanduk. Orang-orang tinggal di rumah-rumah komunal tua, menjalani kehidupan sederhana namun cukup. Binatang-binatang itu memakan daun dan buah dari pepohonan, meskipun sebagian besar dari mereka mati saat musim dingin yang panjang dan bersalju, kalah oleh dingin dan kelaparan.
Betapa aku ingin masuk ke kota itu. Ingin bertemu dengan dirimu yang sebenarnya.
"Kota itu dikelilingi tembok tinggi, jadi sangat sulit untuk masuk," katamu. "Dan keluar dari sana lebih sulit lagi."
"Jadi bagaimana caranya masuk ke dalam?"
"Kau hanya perlu menginginkannya. Tapi benar-benar menginginkan sesuatu, dari hati, tidaklah mudah. Itu mungkin memakan waktu. Sementara itu, kau mungkin harus melepaskan berbagai hal. Hal-hal yang kau hargai. Tapi jangan menyerah, berapa pun waktu yang dibutuhkan. Kota itu tidak akan pergi ke mana-mana."
Aku membayangkan bertemu dengan dirimu yang sebenarnya di kota itu. Aku membayangkan semuanya: hamparan pohon apel yang indah di luar kota, tiga jembatan batu yang membentang di atas sungai, pekikan burung malam yang tak terlihat. Perpustakaan kecil tempat kau bekerja.
"Selalu ada tempat yang telah disiapkan untukmu di sana," katamu.
"Tempat untukku?"
"Ya. Hanya ada satu posisi terbuka di kota itu. Dan kaulah yang akan mengisinya."
Posisi apa itu?
"Kau akan menjadi Pembaca Mimpi," katamu dengan suara rendah. Seakan mengungkapkan sebuah rahasia penting.
Aku tak bisa menahan tawa. "Kau tahu, aku bahkan tak bisa mengingat mimpiku sendiri. Akan sulit bagi seseorang sepertiku untuk menjadi Pembaca Mimpi."
"Tidak, seorang Pembaca Mimpi tak perlu memiliki mimpi sendiri. Yang harus kau lakukan hanyalah membaca mimpi-mimpi lama yang dikumpulkan di rak-rak perpustakaan."
"Menurutmu aku bisa melakukannya?"
Kau mengangguk. "Ya, kau bisa melakukannya. Kau memiliki kualifikasi itu. Dan aku yang ada di sana akan membantumu. Aku akan selalu berada di sisimu, setiap malam."
"Jadi, aku akan menjadi seorang Pembaca Mimpi, dan setiap malam aku akan membaca mimpi-mimpi lama di rak perpustakaan. Dan kau akan selalu bersamaku. Kau yang sebenarnya," kataku, mengulangi fakta yang diberikan padaku.
Bahu telanjangmu yang ramping di bawah tali gaun hijau bergetar di bawah lenganku. Lalu menegang.
"Itu benar. Tapi ada satu hal yang ingin kau ingat. Bahwa meskipun aku bertemu denganmu di kota itu, aku tidak akan mengingat apa pun tentangmu."
Kenapa?
"Kau benar-benar tidak tahu kenapa?"
Aku tahu. Orang yang bahunya kini berada di bawah lenganku hanyalah pengganti. Kau yang sebenarnya tinggal di kota itu. Kota misterius yang jauh, dikelilingi oleh tembok tinggi.
Bahu di bawah lenganku begitu lembut dan hangat hingga sulit membayangkan bahwa itu bukan milikmu yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar