21
SEORANG GADIS MENGHILANG dari hidupmu tanpa jejak. Saat itu kau berusia tujuh belas tahun, seorang pemuda penuh semangat. Dan dia adalah orang pertama yang kau cium. Seorang gadis luar biasa, menawan, yang kau sukai lebih dari siapa pun. Dan dia juga mengatakan bahwa dia menyukaimu. Ketika waktunya tiba, katanya, dia ingin menjadi milikmu. Namun kemudian, tanpa peringatan, tanpa sepatah kata perpisahan, atau penjelasan apa pun—dia pergi. Menghilang. Secara harfiah, seperti asap yang lenyap di udara.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Apakah ada sesuatu yang mendesak yang memaksanya pindah ke kota lain? (Tapi apa pun keadaannya, seharusnya dia masih bisa memberitahumu.) Atau apakah dia sedang berjalan di jalan ketika sesuatu jatuh dari langit, menghantam kepalanya, dan akibatnya dia kehilangan ingatan? Ataukah dia sudah tidak lagi hidup (terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas; dibunuh oleh seseorang secara acak; meninggal karena penyakit langka yang berkembang dengan cepat, atau bunuh diri?) Atau mungkin dia diculik dan dikurung di suatu tempat? (Tapi oleh siapa? Dan untuk tujuan apa?) Atau mungkin dia tiba-tiba berhenti menyukaimu—bahkan membencimu, tak tahan melihat wajahmu atau mendengar namamu? (Apakah kau pernah mengatakan sesuatu yang salah, atau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan?) Ataukah ada lubang hitam kecil di sebuah sudut jalan yang diam-diam terbuka dan menyedotnya ke dalam, seperti daun yang tersedot ke dalam selokan? Atau mungkin... dalam dunia ini setiap kemungkinan selalu diam-diam menunggu seseorang. Bahaya mengintai di setiap sudut. Tapi kau tidak memiliki cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Bisakah kau membayangkan betapa menyakitkannya tiba-tiba ditinggalkan oleh seseorang yang kau cintai tanpa alasan, betapa perihnya hatimu, betapa dalamnya luka yang tercipta, betapa derasnya darah yang mengalir di dalam dirimu?
Yang paling menyakitkan adalah perasaan bahwa seluruh dunia telah meninggalkanmu. Bahwa kau kini hanyalah seseorang tanpa secuil pun nilai. Seperti selembar kertas tak berarti, atau mungkin tak kasatmata. Kau menatap telapak tanganmu, mengamatinya hingga perlahan-lahan kau bisa melihat tembus ke sisi lain—ini bukan kebohongan, ini nyata.
Kau mencari penjelasan yang masuk akal, yang meyakinkan. Kau membutuhkannya lebih dari apa pun. Tapi tak ada yang bisa memberikannya. Tak ada yang memberitahumu harus pergi ke mana sekarang. Tak ada yang menghibur atau menyemangatimu. (Dan meskipun ada, itu tidak akan membantu.) Kau ditinggalkan sendirian di tanah yang tandus. Tak ada sebatang pohon atau sehelai rumput pun yang terlihat. Angin kencang sudah bertiup ke satu arah di sana—angin yang menusuk kulit seperti jarum-jarum kecil. Kau telah dikeluarkan secara kejam dari dunia yang hangat. Terisolasi. Dengan pikiran-pikiran yang tak punya jalan keluar, membebani, seperti bongkahan timah di dalam dirimu.
Seharusnya ada kabar darinya. Dengan harapan itu, kau menunggu, dengan sabar. Tapi mungkin itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan. Namun meskipun kau terus menunggu, tak ada kabar yang datang. Telepon tak berdering, tak ada amplop tebal yang tiba melalui pos. Tak ada ketukan di pintu. Hanya keheningan, dan kehampaan. Keheningan dan kehampaan menjadi temanmu. Hal-hal yang kau harap bukan temanmu. Tapi tak ada yang lain yang tetap tinggal bersamamu. Kau menggenggam seutas harapan, tentu saja kau melakukannya. Namun di hadapan alat-alat kasar bernama keheningan dan kehampaan, bayangan harapan semakin pudar.
*
Dan begitu aku mencapai ulang tahunku yang ke-18, lalu satu tahun lagi berlalu setelah aku menerima surat terakhir itu. Waktu berjalan lambat, namun entah bagaimana terasa cepat. Satu tonggak waktu muncul, hanya untuk memudar. Lalu muncul lagi yang lain.
Aku tak bisa memahami bagaimana seharusnya aku menjadi sebagai seorang manusia. Mengapa aku ada di sini, melakukan apa yang kulakukan? Dan apakah angin sekencang ini selalu bertiup? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri berkali-kali.
Jawabannya tak pernah datang.
Komentar
Posting Komentar