2

 DI DUNIA NYATA INI, kau dan aku tinggal tidak terlalu jauh satu sama lain. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak cukup dekat untuk bisa mampir kapan saja sesuka hati. Aku butuh satu setengah jam untuk sampai ke tempatmu, dengan dua kali ganti kereta dalam perjalanan. Tidak ada tembok tinggi yang mengelilingi kota tempat kita tinggal, jadi tentu saja kita bisa keluar-masuk dengan bebas.  

Aku tinggal di daerah pemukiman yang tenang dekat laut, sementara kau tinggal di pusat kota yang jauh lebih besar dan lebih ramai. Musim panas itu, aku berada di tahun ketiga dan terakhir sekolah menengah atas, sedangkan kau masih di tahun kedua. Aku bersekolah di SMA negeri di daerahku, sementara kau bersekolah di sekolah khusus perempuan di kotamu. Karena berbagai alasan, kita hanya bisa bertemu sekali atau dua kali dalam sebulan. Kita bergantian—aku mengunjungi kotamu, lalu lain kali kau yang datang ke kota tempatku tinggal. Kita akan berjalan ke taman kecil dekat rumahmu, atau ke kebun raya umum. Kebun raya itu memungut biaya masuk, tetapi di sebelah rumah kaca ada kafe kecil yang jarang ramai, dan itu menjadi tempat favorit kita. Kita akan memesan kopi dan tart apel (sedikit kemewahan bagi kita) dan tenggelam dalam obrolan yang tenang.  

Saat kau datang ke kotaku, kita akan berjalan di sepanjang sungai atau pantai. Tidak ada sungai di pusat kota tempat tinggalmu, tentu saja juga tidak ada laut, dan setiap kali kau datang ke kotaku, itu adalah hal pertama yang ingin kau lihat. Kau selalu tertarik pada air alami.  

"Entah kenapa, melihat air selalu menenangkan hatiku," katamu. "Aku suka suara yang dihasilkannya."  

Aku pertama kali bertemu denganmu musim gugur tahun sebelumnya, dan kita telah berpacaran selama delapan bulan. Setiap kali bertemu, kita akan mencari tempat sepi untuk berpelukan dan berciuman. Tapi hanya sebatas itu. Pertama, karena kita tidak punya banyak waktu atau tempat pribadi untuk membawa hubungan ini lebih jauh. Tapi lebih dari itu, kita begitu larut dalam obrolan hingga enggan menyisihkan waktu untuk hal lain.  

Tak pernah sebelumnya kita menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara begitu terbuka tentang perasaan dan pemikiran kita. Bertemu seseorang seperti itu adalah keajaiban kecil. Jadi, sekali atau dua kali dalam sebulan, kita akan mengobrol terus tanpa sadar waktu berlalu. Kita tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, dan saat berpisah di stasiun, aku selalu merasa ada sesuatu yang penting yang lupa kita bahas.  

Bukan berarti aku tidak memiliki keinginan fisik terhadapmu. Seorang remaja laki-laki sehat berusia tujuh belas tahun, bersama seorang gadis enam belas tahun dengan tubuhnya yang mulai berkembang indah, tentu saja ada hasrat di sana. Tapi secara naluriah, aku tahu perasaan itu lebih baik ditahan dulu. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah melihatmu sekali atau dua kali dalam sebulan, berjalan bersama, dan saling berbagi cerita tentang banyak hal. Pertukaran perasaan yang mendalam, mengenal satu sama lain lebih jauh. Kemudian, di bawah naungan pohon, berpelukan dan berciuman—itu sudah begitu indah hingga aku tidak ingin terburu-buru melakukan hal lain. Jika kita melakukannya, sesuatu yang penting dalam hubungan kita mungkin akan hilang selamanya, sesuatu yang mungkin takkan bisa kita dapatkan kembali. Hal-hal fisik bisa menyusul nanti, di waktu yang tepat. Begitulah yang kupikirkan. Atau mungkin, itu adalah bisikan dari intuisi.


*


Jadi, apa yang kita bicarakan saat duduk berdekatan? Aku tak bisa mengingatnya sekarang. Kita membahas begitu banyak hal hingga aku tak lagi mampu mengingat semuanya satu per satu. Tapi satu hal yang aku tahu—begitu kau mulai berbicara tentang kota aneh yang dikelilingi tembok tinggi itu, topik itu langsung menjadi pusat percakapan kita.  

Kau terutama berbicara tentang bagaimana kota itu tersusun. Aku akan menanyakan hal-hal praktis, dan kau akan menjawabnya. Seiring percakapan berlangsung, rincian kota itu mulai terbentuk dan tertuang ke dalam kata-kata. Kau yang menciptakan kota itu. Atau mungkin kota itu memang sudah ada di dalam dirimu sejak awal. Tapi dalam hal menyusun kepingan-kepingannya agar bisa divisualisasikan, agar bisa kau gambarkan dengan kata-kata, aku rasa aku juga turut berperan. Kau bercerita, dan aku menuliskannya. Seperti filsuf kuno atau tokoh agama yang memiliki juru tulis setia dan teliti, atau mungkin murid-murid mereka yang mencatat setiap kata yang diucapkan. Aku mencatat semuanya dalam sebuah buku kecil khusus yang kusiapkan untuk tujuan itu—sebagai sekretaris yang selalu sigap, atau murid yang setia.  

Musim panas itu, kita berdua benar-benar tenggelam dalam proyek kolaboratif ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10

24

9