26
BAYANGANKU MENATAPKU lama sekali. Aku mencoba mengatakan sesuatu beberapa kali, tetapi setiap kali menelannya kembali, seperti menyerah pada makanan yang sulit dikunyah dan malah langsung menelannya. Kata-kata yang tepat tidak muncul. Bayanganku menunduk, menggambar bentuk kecil dengan ujung sepatunya di tanah yang dingin. Hanya untuk kemudian menghapusnya dengan solnya. “Kau sudah memikirkannya baik-baik, kan?” katanya. “Ini bukan sesuatu yang kau putuskan begitu saja karena takut melompat ke dalam air?” Aku menggeleng. “Tidak, aku tidak takut lagi. Sampai beberapa saat yang lalu aku memang merasa takut, tapi sekarang tidak. Apa yang kau katakan terdengar masuk akal. Jika kita mau, aku rasa kita bisa melewati tembok dengan selamat.” “Tapi kau tetap akan tinggal?” Aku mengangguk. “Tapi kenapa?” “Pertama-tama, aku tidak melihat alasan untuk kembali ke dunia asal. Di dunia itu, aku hanya akan semakin kesepian. D...